Permasalahan pascapanen jagung adalah waktu panen yang berlangsung pada saat curah hujan masih tinggi, sehingga kadar air biji cukup tinggi. Oleh karena itu proses pascapanen dalam satu rangkaian kegiatan usaha tani jagung dinilai sangat penting untuk perbaikan kualitas produk biji baik kaitannya dengan industri pakan maupun pangan dan untuk kepentingan ekspor. Sehubungan dengan itu telah dilakukan penelitian tentang proses pascapanen tersebut kaitannya dengan kualitas produk biji jagung pada tingkat petani, pedagang, pengekspor, dan peternak. Penelitian dilaksana-kan di Provinsi Gorontalo sebagai salah satu daerah penghasil jagung yang sekaligus pengekspor, dengan kondisi lingkungan berpeluang dapat terjadi kontaminasi aflatoksin.
Pada umumnya petani di Kabupaten Gorontalo, Bualemo, dan Pohuwato belum memiliki fasilitas pemipil dan pengering jagung, oleh karena itu proses pengeringan jagung berkelobot dilakukan petani dengan cara penjemuran di ladang. Selain cara pengeringan tersebut, sebagian petani melakukan pengeringan jagung dalam bentuk tongkol terkupas yang dikeringkan di dalam bak yang terbuat dari papan kayu dan ditutupi terpal plastik jika turun hujan. Cara pengeringan jagung demikian rentan terhadap infeksi jamur, investasi hama kumbang bubuk, dan kotoran. Fasilitas pengeringan standar (lantai jemur, flat bed drayer) seperti yang ada di beberapa daerah lain dan hasil penelitian belum terjangkau oleh kelompok tani. Jasa pengeringan jagung tersedia di tingkat pedagang pengumpul atau pedagang antar pulau.
Berkaitan dengan persyaratan kadar air biji yang ditetapkan oleh pedagang (17%), harga biji jagung di tingkat petani berkisar antara Rp 725 – Rp 900/kg. Nilai kadar air biji jagung di tingkat petani pada umumnya >17% sehingga harga yang diterima petani lebih rendah dari yang telah ditetapkan oleh pedagang. Biji jagung yang dihasilkan petani meskipun kadar airnya masih >17%, namun dari sampel yang diambil menunjukkan bahwa kontaminasi aflatoksin ß1 masih dibawah nilai ambang batas (30 ppb) persyaratan untuk dikonsumsi. Terlepas dari kadar air biji (>17%), berdasarkan sampel yang diambil di tingkat petani menunjukkan bahwa 22 – 71% hasil jagung petani tergolong dalam mutu I SNI 1991 (butir rusak 2%, butir warna lain 1%, butir pecah 1%, dan kadar kotoran 1%). Namun pedagang pengumpul yang menyalurkan hasil jagung dengan tingkat mutu I, baru sekitar 20% dan untuk pengekspor 100% biji jagung yang diekspor tergolong mutu I. Pada umumnya produk biji jagung dari petani sampai pedagang pengumpul/pengekspor dan peternak kadar aflatoksinnya bervariasi, yaitu kisaran 4,5 ppb – 665 ppb dengan perincian 47,62% sampel terinfeksi aflatoksin dengan kadar 4,5 ppb – 24 ppb; 52,38% sampel terinfeksi dengan kadar 72,0 ppb – 665 ppb. Kadar aflatoksin yang tinggi (>72,0 ppb) ditemukan pada tingkat pedagang pengumpul/pengekspor yang disebabkan oleh gangguan alat pengering pada saat berlangsungnya penelitian ini. Dari sejumlah sampel pedagang pengumpul/pengekspor, ditemukan hanya 50% yang meng-ekspor biji jagung dengan kadar aflatoksin <30 ppb.
Hama kumbang bubuk Sitophillus zeamays pada umumnya telah ada pada produk biji jagung sejak di lapangan. Namun keberadaannya sangat tergantung dari kondisi pada saat panen. Di Gorontalo, berdasarkan sampel dari hasil jagung di tingkat petani menunjukkan bahwa 80% tidak terinfestasi hama kumbang bubuk. Namun dari pengambilan sampel biji rusak, sekitar 93% terinfeksi cendawan Aspergillus flavus.
Penundaan pengeringan pada dasarnya akan menyebabkan penurunan kualitas hasil biji jagung. Pada kondisi saat panen tidak terjadi hujan, penundaan panen selama 7 hari setelah masak fisiologis dapat membantu proses penurunan kadar air dari 33% menjadi 27%. Namun penundaan pengeringan dengan cara menumpuk tongkol jagung yang telah dipanen di atas terpal selama 3 – 5 hari, meskipun mampu menurunkan kadar air dari 32% menjadi 29% akan tetapi dapat menyebabkan terjadinya infeksi cendawan 56 - 68%. Tanpa penundaan pengeringan, infeksi cendawan dapat ditekan menjadi hanya berkisar antara 9 - 18%. Oleh sebab itu pengeringan harus dilakukan secepatnya setelah panen jika kondisi cuaca mendukung, namun bila kondisi cuaca kurang mendukung dan petani tidak mem-punyai fasilitas pengering maka mutu produk akan menjadi masalah.
Kerusakan biji dapat disebabkan oleh terjadinya luka pada saat pemipilan, dan ini terjadi jika saat pemipilan kadar air biji masih tinggi (>20%). Biji yang terluka pada kondisi kadar airnya masih tinggi berpeluang mudah terinfeksi oleh cendawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemipilan jagung pada kadar air 15 - 20% dengan alsin pemipil buatan bengkel setempat maupun dengan alsin pemipil buatan Balitsereal, biji jagung yang terinfeksi cendawan maksimal mencapai 5%. Dengan menggunakan alsin pemipil yang sama pada kadar air biji jagung 35%, infeksi cendawan mencapai 10 - 15%. Tingkat infeksi cendawan sangat dipengaruhi oleh tingkat kadar air biji dan lama penyimpanan, semakin tinggi kadar air biji dan semakin lama disimpan, peluang terinfeksi cendawan akan lebih besar. Demikian halnya dengan tingkat serangan hama kumbang bubuk.
Kualitas fisik maupun kimia biji jagung, selain ditentukan oleh varietas juga dipengaruhi oleh waktu panen yang tepat. Waktu panen yang tepat adalah saat biji jagung telah menunjukkan tanda hitam (black layer) di bagian pangkal tempat melekatnya biji pada tongkol. Kondisi ini dicapai jika pengisian biji jagung telah sempurna dan telah mencapai masak fisiologis. Panen yang dilakukan sebelum atau setelah lewat masak fisiologis akan berpengaruh terhadap kualitas kimia biji jagung. Penelitian terhadap waktu panen yang diterapkan terhadap varietas Srikandi Putih-1 dan Srikandi Kuning-1 (jenis jagung QPM) yang berdasarkan deskripsi umur panennya berkisar 105 – 110 hari, menunjukkan bahwa pemanenan yang dilakukan lewat masak fisiologis menyebabkan kadar protein menurun, namun kadar karbohidratnya cenderung meningkat.
PENGERINGAN
Pengeringan adalah upaya untuk menurunkan kadar air biji jagung agar aman disimpan. Kadar air biji yang aman untuk disimpan berkisar antara 12-14%. Pada saat jagung dikeringkan terjadi proses penguapan air pada biji karena adanya panas dari media pengering, sehingga uap air akan lepas dari permukaan biji jagung ke ruangan di sekeliling tempat pengering Pengeringan diperlukan sebelum pemipilan untuk menghindari terjadinya biji pecah. Untuk itu, kadar air biji harus diturunkan menjadi < 20%. Pengeringan dimaksudkan untuk mencapai kadar air biji 12-14% agar tahan disimpan lama, tidak mudah terserang hama dan terkontaminasi cendawan yang menghasilkan mikotoksin, mempertahankan volume dan bobot bahan sehingga memudahkan penyimpanan.
Pengeringan untuk Menurunkan Infeksi Cendawan Penundaan panen jagung selama tujuh hari setelah masak fisiologis dengan cara memangkas batang 10 cm di atas tongkol dapat membantu proses penurunan kadar air biji dan menekan tingkat penularan cendawan. Apabila pengeringan jagung menggunakan alat pengering, tingkat infeksi cendawan hanya berkisar antara 9-10%. Oleh sebab itu, pengeringan harus dilakukan secepatnya setelah panen jika cuaca mendukung. Namun bila kondisi cuaca kurang mendukung dan petani tidak mempunyai fasilitas pengeringan maka mutu produk akan rendah.
Cara Pengeringan Jagung di Tingkat Petani Cara pengeringan jagung yang umum dilakukan petani adalah dengan bantuan sinar matahari atau penjemuran langsung di lapang (in-field sun drying). Cara ini dapat dibedakan menjadi: (a) penjemuran bersama-sama antara tongkol yang masih menyatu dengan batang tanaman; (b) penjemuran tongkol yang sudah dipetik dari batang atau sudah dipisahkan antara biji dengan janggelnya (jagung pipil). Pengeringan langsung di lapang dengan membiarkan tongkol tetap pada tanaman selama 7-14 hari. Cara ini sudah dilakukan oleh banyak petani yang menanam jagung hibrida (tinggi tongkol dari permukaan tanah seragam), khususnya pertanaman musim kemarau. Pengeringan dengan cara ini dapat menurunkan kadar air biji sampai 18%. Pengeringan langsung di lapang dengan menjemur bahan (tongkol beserta biji atau biji pipilan) di permukaan tanah atau lantai jemur juga telah dilakukan oleh banyak petani jagung.
Prinsip pengeringan dengan cara penjemuran adalah memanfaatkan perpindahan suhu panas sinar matahari ke sekeliling bahan yang dikeringkan. Hal yang perlu diperhatikan dalam penjemuran tongkol atau biji jagung secara langsung di lapang adalah adanya sifat higroskopis bahan, sehingga selama proses pengeringan berlangsung terjadi kenaikan kadar air biji. Kenaikan kadar air biji akan terjadi apabila tekanan uap air jenuh di sekeliling bahan meningkat, karena adanya tekanan osmotik dari jaringan pipa kapiler tanah di bawah tempat penjemuran, atau suhu di lingkungan penjemuran turun pada malam hari.
Cara penjemuran jagung yang umum dilakukan petani adalah:
(a)dikeringkan langsung bersama tongkol setelah panen;
(b) dikeringkansetelah dirontok atau dipisahkan dari janggel;
(c) tongkol dikupas dan dikeringkan terlebih dahulu selama dua hari untuk mencapai kadar air <20%, dirontok, kemudian dikeringkan lagi;
(d) penundaan pengeringan dan jagung langsung dikarungkan, disimpan 1-2 hari, dipipil dan dijual;
(e)tanpa dikeringkan
Fasilitas Penjemuran
Penjemuran jagung langsung di lapang dengan bantuan sinar matahari umumnya diberlakukan pada tongkol yang masih berkelobot maupun yang sudah dikupas kelobotnya. Efektivitas penjemuran bahan ditentukan oleh:
(a) tingkat pengeringan, (b) lokasi penjemuran, dan (c) posisi bahan dari penyinaran matahari. Beberapa fasilitas penjemuran yang ada di tingkat petani adalah: (a) tanpa alas jemur, bahan langsung dikeringkan di atas tanah atau di tepi jalan aspal, (b) anyaman bambu, (c) lembaran plastik atau terpal, dan (d) lantai jemur.
Penjemuran tanpa alas, murah dan mudah dilakukan petani. Tempat penjemuran yang dipilih umumnya di tepi jalan beraspal. Kelemahan cara penjemuran ini adalah mengganggu pengguna jalan dan tercampurnya bahan oleh benda asing (kerikil, tanah atau kotoran) sehingga menurunkan kualitas bahan. Hasil survei terhadap 60 petani responden di Lampung menunjukkan 9,3% petani menjemur jagung tanpa alas. Di Kediri tidak satu pun petani responden yang menjemur jagung tanpa alas. Menjemur tanpa alas menyebabkan jagung tercampur dengan benda asing sehingga menurunkan harga jual atau memerlukan tambahan biaya untuk memisahkan campuran kotoran.
Penjemuran dengan alas anyaman bambu didapatkan benda asing 7,7% dan 1,2% masing-masing di Lampung dan Kediri. Penjemuran dengan alas plastik atau terpal masih banyak dilakukan petani di Lampung (13,9%) dibanding dengan petani di Kediri (2,4%). Petani di Kediri lebih banyak menggunakan alas plastik atau terpal untuk menjemur jagung yang masih dalam bentuk gelondongan. Penjemuran dalam bentuk gelondongan dilakukan selama dua hari, kemudian dipipil dan dijemur lagi dalam bentuk pipilan selama dua hari. Penggunaan alas plastik lebih disenangi karena mudah diperoleh dan mudah dilipat. Cara lain yang dilakukan oleh petani adalah menjemur jagung dalam karung plastik selama satu hari, kemudian dipipil.
Pengeringan jagung di lantai jemur banyak diminati petani karena konstruksi pembuatan dan pengoperasiannya mudah dan relatif lebih cepat kering dibanding menggunakan alas tikar plastik. Ukuran luas lantai jemur dapat disesuaikan dengan ketersediaan lahan dan biaya pembuatan, namun yang penting diperhatikan adalah dimensi lebar dan tebal lantai tempat menaruh bahan yang dikeringkan.
Kelemahan dari lantai jemur adalah memerlukan lahan yang cukup luas, sesuai dengan jumlah bahan yang akan dikeringkan. Selain itu, cara penjemuran ini tidak efektif digunakan pada musim hujan. Ketebalan bahan yang disarankan adalah 10-15 cm. Pengeringan biji pipilan dengan cara penjemuran pada musim kemarau memerlukan waktu 6,5 jam untuk menurunkan kadar air biji dari 15% ke 13% .
Pengeringan dengan Alat Mekanis Pengeringan secara mekanis adalah pengeringan dengan bantuan alat pengering yang dioperasikan secara mekanis. Beberapa alat pengering mekanis yang banyak dijumpai adalah: (a) alat pengering dengan sumber panas energi bahan bakar minyak (solar, minyak tanah); (b) alat pengering dengan sumber panas energi bahan bakar limbah pertanian; (c) alat pengering dengan sumber panas energi sinar matahari.
PENYIMPANAN
Fasilitas penyimpanan sangat diperlukan di sentra produksi jagung yang letaknya jauh dari industri pakan dan pangan. Adanya fasilitas yang memadai akan membantu petani dalam mendapatkan penawaran harga yang lebih baik.
Dalam proses penyimpanan, biji jagung masih mengalami proses pernafasan dan menghasilkan karbondioksida, uap air, dan panas. Apabila kondisi ruang simpan tidak terkontrol maka akan terjadi kenaikan konsentrasi air di udara sekitar tempat penyimpanan, sehingga memberikan kondisi ideal bagi pertumbuhan serangga dan cendawan perusak biji. Pengaruh negatif lanjutan dari kenaikan suhu dan
konsentrasi uap jenuh udara adalah meningkatnya proses respirasi dengan akibat sampingan makin meningkatnya suhu udara di ruang penyimpanan, yang akan mempercepat proses degradasi biji.
Penyimpanan jagung dapat berlangsung lama tanpa menurunkan kualitas biji apabila terjadi keseimbangan kondisi simpan antara kelembaban udara relatif lingkungan dengan kandungan air biji pada kondisi suhu tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa pada suhu ruang simpan 28ºC, kelembaban udara nisbi 70%, dan kadar air 14%, biji jagung masih mempunyai daya tumbuh 92% setelah disimpan selama enam bulan, sedangkan pada suhu simpan 38ºC daya tumbuh benih menurun menjadi 81%.
Harga jagung umumnya rendah pada musim panen raya karena produksi yang berlebihan. Petani tidak dapat menunda penjualan jagungnya, karena tidak memiliki fasilitas penyimpanan yang memadai. Mereka umumnya menyimpan jagung dalam jumlah kecil, untuk keperluan benih dan konsumsi keluarga.
Dengan menyimpan selama beberapa bulan saja, petani akan memperoleh tambahan pendapatan karena harga jagung biasanya meningkat beberapa bulan setelah panen raya. Sebelum disimpan, biji/benih sebaiknya dikemas terlebih dahulu dalam kantung plastik, kemudian baru disimpan dalam fasilitas penyimpan yang terbuat dari bahan kayu atau multiplek.


bleh jg
BalasHapusizin share y...
BalasHapus